Example 120x600
Example 120x600
Opini PublikPolitik

Kualitas Pemilu Ditentukan oleh Kualitas Berfikir

×

Kualitas Pemilu Ditentukan oleh Kualitas Berfikir

Sebarkan artikel ini


Oleh : Amran Bone

HALSEL:SARUMANEWS.COM- Pemilu 2024 menjadi ekspresi dari rakyat dalam menjemput momentum, untuk menguji kemerdekaan dan kedaulatan yang dimiliki rakyat. Karna itu, kemenangan calon Presiden, Pileg serta semua calon kepala daerah adalah hendak dipilih oleh rakyat sebagai sosok terbaik yang di yakini rakyat, maka dari itu pemilu, pileg maupun pilkada semestinya rakyatlah yang justru menjadi pemenang. Prameter untuk mengukur, baik dan buruknya momentum ini adalah kualitas berfikir masyarakat yang meletakan, kemauan yang kuat untuk berbenah, sehingga kemenangan atas kedaulatan rakyat itu, benar-benar perwujudan dari Demokarasi.

Mengulas kembali sejarah pemilu pada tahun 1955-1999 dianggap sebagai pemilu yang paling fair, sebaliknya, pada masa Orde Baru, pelaksanaan pemilu di rekayasa menjadi “pesta demokrasi rakyat”. hasilnya pemilu tidak lebih dari hura-hura politik untuk memilih pemimpin yang itu-itu saja (Topo Santoso dkk).

Bagaimana kita dapat mengukur kualitas pemilu? Kualitas pemilu setidaknya kita mampu melihat dari dua sisa yang berdampingan yaitu: Pertama pemilih cerdas adalah pemilih yang mempunyai kesadaran berfikir yang baik untuk menentukan massa depan negara dan mengikuti proses berjalan sesuai dengan prinsip-prinsip pemilu yang demokrasi, jurdil dan luber (asas pemilu). Kedua tentu kita tidak terlepas dengan penyelengara pemilu baik itu pemilihan presiden, pileg dan pilkada adalah orang” yang berintegritas tinggi, moralitas teruji dan kapasitas tidak diragukan.

Oleh sebab itu dalam pemilihan calon presiden, wakil rakyat dalam parlemen maupun kepala daerah sudah semestinya rakyat cerdas memilih, peserta pemilu yang bebas, jujur dan adil ( jurdil) dengan menentukan pilihan terbaik kita. Meski pun peran luar menjadi isu hangat, dengan mengandalkan segenap rayuan dalam hal ini sembako, uang serta mengedepankan posisi sebagai langka bujukan liar, dengan secara leluasa mengunakan money politik.

Peran sembako dan money politik tidak lepas dari budaya setiap tahun menjelang pemilu, namun tidak semua menjadi ukuran besar untuk menentukan masa depan kita lima tahun berjalan, yang menjadi trauma dan ketakutan calon sudah pernah membeberkan komunikasi dengan rupa janji dan ingkar janji, tidak perlu di gubris dan di bebankan menjadi pilihan utama, sebab sosok pemilih yang cerdas tentu akan mengukur sosok pimpinan, yang diyakini dengan besar cita-cita masa depan dan mengabaikan rayuan, gombal sembako dan uang untuk merusak prinsip-prinsip kepemiluan.

Dewasa ini, tentu banyak yang menjadi rintangan dalam pilihan kita untuk menentukan peserta pemilu yang berkualitas untuk daerah dan negara indonesia tercinta, sebab pada pemilu tahun ini adalah ajang yang baik untuk kehadiran sang pemimpin, jujur, adil dan bijaksana, mewakili kemauan dan jeritan rakyat selama ini, momentum pemilu, pileg dan pilkada yang akan kita lakukan kemudian hari kita mampu membentuk kesadaran dan pemahaman atas kedaulatan rakyat tentu akan memberikan hal baru menjadi mandat kepada kita untuk mengelola kehidupan bernegara dan berbangsa yang baik dan bermartabat bagi rakyat indonesia.

Itu sebabnya budaya dan seni politik harus di satukan dengan keteguhan bersama untuk menciptakan pemilu jurdil dan luber agar membangun peradaban baik bagi generasi baru, demi terwujudnya bangsa dan negara yang benar-benar meletakan dasar pikiran dan tindakannya atas kesejatraan rakyat.
“Berfikirlah, bahwa sebab suara rakyat bukan suara tahun, tetapi rakyat mampu mengubah suara pemilu menjadi suara takdir”(03/01/2024)

Demokrasi : Anak Kampong

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Opini Publik

SARUMANEWS.COM- Belum genap setahun kepemimpinan Bupati Halmahera Selatan,…