Example 120x600
Example 120x600
Opini Publik

“MAFIA”

×

“MAFIA”

Sebarkan artikel ini

Oleh: Yusrianto Hardi

Jelang 2024, di sosial media banyak berita tentang “mafia”. Awalnya saya tidak terlalu peduli dengan tema ini, toh negara kita dari dulu “memelihara” para “mafia”. Antusiasme saya untuk menulis muncul karena alasan moral dan intelektual: kebobrokan ini tidak boleh dibiarkan, karena mafia adalah penjahat sesungguhnya. Sama seperti kita menonton TV kemudian menceritakannya pada orang lain untuk mengisi basa-basi saat nongkrong dan diskusi. Dalam sebuah film, mafia selalu ditampilkan sebagai sosok penjahat yang potensinya setara dengan pemeran utama: dari segi bertarung, taktik, dan lain sebagainya. Mafia paling cepat dikenali oleh penonton, pertama karena penampilannya, karena kejahatannya, atau karena sukanya membunuh tanpa pandang bulu. Biasanya pertarungan “habis-habisan” untuk membuat film tamat karena dimenangkan oleh aktor utama. Kalau mafia yang menang, maka episodenya akan berlanjut pada season II dan seterusnya (sampai mafia/penjahatnya KO).

Bedanya, dalam kehidupan nyata, tidak ada yang mau mengaku dirinya mafia, predikat ini diberikan pada orang-orang tertentu yang melakukan aktivitas improsedural, kebal hukum dan bahkan berkawan dengan penegak hukum dan pengendali kebijakan. Selain itu, dia memiliki modal kapital serta jejaring besar dengan tujuan tertentu. Hal ini bisa kita bayangkan seperti yang diceritakan Jhon Perkins.


Sosok yang kita bicarakan saat ini adalah pengendali banyak hal yang dilakukan tanpa kita sadari. Tanpa kita sadari juga, bahkan apa yang kita baca serta lihat adalah bagian dari rencana-rencana mafia untuk merekonstruksi pikiran kita agar melihat segala sesuatu seperti yang mereka (mafia) inginkan. Kalau apa yang mereka sebarkan didukung serta disetujui banyak orang, akan sangat mudah bagi mereka untuk menjalankan misi.
Seorang penulis laten sekalipun juga bisa terjebak dalam perangkap mafia. Peneliti, akademisi apalagi politisi. Mafia bisa jadi penyuplai dana pendidikan, dana penelitian dan penulisan buku dan lainnya. Hal ini sama sekali tidak disadari. Hal yang paling ganjil ketika kita melihat bahwa ada sumbangan anggaran dari luar negeri dengan syarat-syaratnya. Bagaimana bisa uang yang dikeluarkan pihak-pihak secara gratis tanpa keuntungan balik. Program bantuan penelitian, survey dan sejenisnya secara gratis itu sebanarnya tidak. Laporan hasil penelitian itu adalah bayarannya. Apa maksudnya? saya perIu tegaskan ini bisnis data.


Data kemiskinan, penelitian tentang kebudyaan, bantuan kemanusiaan, relawan bantuan bencana, siapa yang membiayai ini dengan gratis tanpa keuntungan balik? Tidak mungkin dari pemerintah suatu negara tentu dengan alasan menjaga hubungan negara tetangga atau hubngan bilateral. Data merupakan jalan penerobasan keamanan dan ketahanan. Sumber data yang merupakan hasil penelitian adalah rangkaian dasar dari monopoli, memang tujuan utamanya bukan uang. Dia lebih pada dominasi sepihak yang mengarahkan ini pada kontrol sosial. Dengan demikian, pemegang kendali ada pada mereka. Menentukan isu, opini, ekonomi, bahkan kekuasaan.
Jika dari berbagai rangkaian seperti di atas, kita bisa menyebut suatu negara dikendalikan oleh mafia. Meski samar, kita bisa melihat penyamarannya di investor yang mungkin saja kita menyebutnya sebagai oligarki atau dengan sebutan apa.


Mafia dalam sudut pandang tertentu, secara sederhana kita bisa menyebutkan mereka sebagai individu atau kelompok tertentu yang melakukan sesuatu yang melawan hukum serta ketentuan-ketentuan dengan tujuan tertentu. Mereka kebal hukum, ekstrim, brutal dan tak mengenal rasa hormat. Menghilangkan nilai sejarah dan budaya satu bangsa untuk dieksploitasi. Ideologi mereka adalah ideologi penjajah yang menjajah pikiran kita hingga pada sumber daya alam. Sebagai informasi, mafia kecil juga ada dari pribumi, tersebar juga di lembaga-lembaga strategis negara.
Di perbatasan, pasar, kantor, pelabuhan bahkan di samping rumah kita ada barang terlarang yang beredar seperti narkoba, minuman keras, bahkan sejumlah barang dagang lain yang ilegal tapi sah. Ini perbuatan mafia. Para mafia ini cocok di beri predikat sebagai teroris. Mereka ini perompak yang penampilan jas dan dasi elegan. Di abad ini tidak ada teroris atau kelompok separatis. Gerakan-gerakan ini sebenarnya adalah proyek. Program nasionalisme dan sekaligus program marginalisasi pihak tertentu sebagai oposisi.


Ikhtiar pembangunan, kita punya banyak tumpukan konsep dari segala sektor dan bidang tapi kenapa tidak terimplementasi secara baik? Karena mafia menjadi pemenang kendali atas semuanya. Mereka ini musuh negara yang sesungguhnya. Sepatutnya kita harus menyelesaikan persoalan mafia ini lebih dahulu, mafia pendidikan, mafia hukum, mafia lingkungan, dan lainnya. Selama mereka masih memegang kendali atas itu, tidak akan ada niat baik untuk membangun. Mereka hanya sibuk membangun kekuatan untuk mendominasi.
Utamanya di Kota, adanya dominasi ruang-strategis, seperti halnya politik, ideologi ekonomi dan lainnya. Kota merupakan tempat penumpukan atas berbagai kepentingan. Di Kota, ruang menjadi sebuah kompetisi kuasa dari aktor yang berkepentingan.


Salah satu fenomena yang biasa kita lihat di kota, kota menunjukkan bahwa sangat sulit mengendalikan praktik-praktik pengelompokan-pengelompokan dari sektor informal yang mengooptasi ruang-ruang ‘publik’ dan menjadikannya arena kaki lima. Pengooptasian ruang inilah yang membuat Hendri Levebvre melahirkan konsep ruang sosial. Pada praktik ini, manusia yang mulanya dipandang sebagai entitas yang konkret telah mengalami alienasi (terasing) menjadi entitas yang abstrak. Manusia tidak dilihat lagi sebagai manusia namun dihitung keberadaannya berdasar satuan waktu kerja yang nantinya masuk dalam perhitungan komoditas yang dihasilkan. Hal itu terjadi di pasar, pelabuhan, bandara dan dalam birokrasi pemerintahan itu sendiri.


Saya ingin perlu tegaskan agar tidak menuding orang atau pihak bahkan negara dan agama tertentu. Mafia itu pikiran yang ingin mendominasi dan menguasai segalanya dengan cara-cara tidak manusiawi dan melanggar ketentuan hukum yang berlaku. Selain itu, merugikan banyak pihak. Potensi mafia ini berpotensi menjadi penjajah karena mempertahankan kuasa kendalinya. Saya senang menyebut mereka sebagai Master of Mask Mafia itu bisa siapa saja dan di mana saja. Terutama di kota

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Opini Publik

SARUMANEWS.COM- Belum genap setahun kepemimpinan Bupati Halmahera Selatan,…