Pendidikan

Gerakan Membaca Besar-Besaran Akan Dimulai di Hal-Sel, Ini Sosok di Baliknya

40
×

Gerakan Membaca Besar-Besaran Akan Dimulai di Hal-Sel, Ini Sosok di Baliknya

Sebarkan artikel ini

TERNATE, SARUMANEWS.COM — Kabupaten Halmahera Selatan tampaknya sedang bersiap memasuki era baru pembangunan sumber daya manusia. Di tengah derasnya arus digital dan perubahan zaman, sebuah gerakan membaca berskala besar mulai disiapkan untuk menjangkau masyarakat hingga pelosok desa di Bumi Saruma.

Sosok yang berada di balik gerakan tersebut adalah Rifa’at Al Sa’adah Bassam, yang hari ini resmi dikukuhkan sebagai Bunda Literasi Kabupaten Halmahera Selatan oleh Bunda Literasi Provinsi Maluku Utara, Ny. Rusni Sarbin, bertempat di Ballroom Hotel Amara, Ternate. (11/05)

Prosesi pengukuhan itu turut disaksikan oleh Wakil Gubernur Maluku Utara, Sarbin Sehe, serta Kepala Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, Prof. E. Aminudin Aziz.

Pengukuhan tersebut menjadi penanda dimulainya gerakan literasi yang lebih terstruktur, kolaboratif, dan menyentuh seluruh lapisan masyarakat di Kabupaten Halmahera Selatan.

Dalam dua tahun terakhir, Rifa’at diketahui aktif membangun ekosistem literasi melalui berbagai kegiatan sosial, pendidikan, serta penguatan komunitas baca. Sedikitnya terdapat 15 komunitas taman baca dan pegiat literasi yang berhasil dirangkul untuk ikut terlibat dalam membangun budaya membaca di Halmahera Selatan.

Menariknya, gerakan yang dibangun tidak hanya berpusat pada perpustakaan formal, tetapi juga menghadirkan literasi ke ruang-ruang publik dan kehidupan sehari-hari masyarakat.

Ke depan, Rifa’at tengah menyiapkan program strategis berupa pengembangan 134 perpustakaan desa dan kecamatan sebagai pusat gerakan literasi masyarakat. Program tersebut diharapkan menjadi fondasi lahirnya generasi Halmahera Selatan yang cerdas, kreatif, dan berdaya saing.

“Literasi bukan sekadar membaca buku, tetapi membangun pola pikir masyarakat menuju masa depan yang lebih maju,” menjadi semangat yang terus dibangun dalam gerakan tersebut.

Selain itu, pertumbuhan pojok baca di desa-desa juga mulai didorong agar akses pengetahuan semakin dekat dengan masyarakat.

Tidak hanya literasi konvensional, gerakan ini juga mulai memperkuat literasi digital dan non-digital sebagai upaya memperluas wawasan masyarakat di tengah perkembangan teknologi informasi.

Dalam waktu dekat, gerakan literasi akan dilakukan secara lebih masif dengan melibatkan ASN, pelajar, pemuda, komunitas, hingga masyarakat umum. Kampanye membaca 30 menit setiap hari juga akan menjadi bagian dari gerakan budaya baru di Halmahera Selatan.

Sebagai langkah nyata, lobi Kantor Bupati Halmahera Selatan akan diubah menjadi pojok baca terbuka bagi masyarakat dan ASN. Seluruh OPD juga akan dilibatkan melalui gerakan sumbangan minimal 10 buku untuk mengisi ruang baca tersebut.

Menariknya lagi, Rifa’at mulai menggandeng komunitas dan pelaku usaha, termasuk coffee shop di berbagai wilayah, agar menghadirkan pojok baca sebagai ruang nyaman untuk membaca, berdiskusi, dan bertukar gagasan.

Kolaborasi antara pemerintah, komunitas, sekolah, hingga ruang publik diharapkan mampu melahirkan budaya literasi baru yang tumbuh dari desa, hidup di tengah masyarakat, dan berkembang menjadi kekuatan peradaban di masa depan. (Hs)

"

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *