Pemerintahan

Pelantikan KKST Hal-Sel, Ketika Cakalele Dan Silat Buton Bertemu Di Rumah Besar Saruma

43
×

Pelantikan KKST Hal-Sel, Ketika Cakalele Dan Silat Buton Bertemu Di Rumah Besar Saruma

Sebarkan artikel ini

HAL-SEL:SARUMANEWS.COM – Pelantikan Pengurus Daerah Kerukunan Keluarga Sulawesi Tenggara (KKST) Kabupaten Halmahera Selatan periode 2026 – 2031 bukan sekadar pergantian kepengurusan. Di Aula Kantor Bupati Halmahera Selatan, Sabtu, 25 Juli 2026, ada pesan dibunyikan: orang – orang yang datang dari pulau dan pesisir Sulawesi Tenggara tidak hanya membawa nama daerah asal, tetapi juga membawa tenaga, pengetahuan, pengalaman, dan kesediaan untuk ikut menjaga rumah bersama bernama Halmahera Selatan.

Di panggung pelantikan (Sabtu, 25/7), pesan persaudaraan itu hadir melalui bahasa kebudayaan. Bupati Halmahera Selatan, Hasan Ali Bassam Kasuba, diterima dengan Tari Cakalele Togale. Tarian yang berwatak kepahlawanan. Geraknya tegas, ritmenya kuat, dan ekspresinya menggambarkan keberanian, kesiapsiagaan, serta semangat melindungi negeri.

Kehadiran Cakalele Togale dalam pelantikan KKST terasa Istimewa. Ia disandingkan dengan tarian silat adat Buton. Perpaduan Cakalele dan Silat, melambangkan persatuan nusantara, penghormatan terhadap jiwa ksatria dan akulturasi dua budaya. Dalam masyarakat maritim, kekuatan bukanlah alasan untuk meninggikan diri. Kekuatan justru memperoleh kehormatan ketika dipakai untuk menjaga keluarga, membela kebenaran, dan melindungi kehidupan bersama.

Dua tarian itu seolah berdialog di ruang yang sama. Cakalele menghadirkan semangat Togale, sedangkan silat adat menghadirkan warisan Buton. Keduanya tidak dipertentangkan, tetapi dipertemukan. Dua latar kultur, dua jalur sejarah maritim, dan dua tradisi kepahlawanan menyatu dalam ikatan persaudaraan di panggung pelantikan KKST Halsel. Budaya tidak berdiri sebagai pagar yang memisahkan, melainkan jembatan yang memungkinkan orang saling mengenal dan saling menghormati.

Puncak penghormatan budaya terlihat ketika Haji Rustam, tokoh KKST Halmahera Selatan, menyematkan kain tenun khas Buton dan songkok kebesaran adat Buton, kampurui, kepada Bupati. Ia merupakan bahasa simbolik, Bupati diterima sebagai bagian dari keluarga besar KKST Halmahera Selatan.

Kampurui bukan sekadar penutup kepala. Dalam tradisi Buton, benda adat yang dikenakan di kepala berkaitan dengan kehormatan, kewibawaan dan tanggung jawab. Kepala adalah tempat pikiran dan pertimbangan. Kampurui menjadi pengingat. Ia sekaligus harapan yang tersemat agar kepemimpinan tetap teguh, berpihak kepada masyarakat, serta merawat semua kelompok sebagai satu keluarga besar. Filosofi yang sejalan dengan visi Bupati dalam menjalankan pemerintah Kabupaten Halsel.

Pelantikan yang dihadiri unsur pemerintah, tokoh adat, tokoh agama, sesepuh, dan perwakilan berbagai paguyuban itu memperlihatkan bahwa KKST tidak berdiri sendirian. Tanggung jawab yang diemban Ketua Umum KKST Halsel, Jakaruddin S.Pd, M.Pd dan Sekretaris Umum Hi. Safaruddin, SS. M.H, bersama jajaran pengurus periode 2026 – 2031 adalah membuka pintu dialog, memperbanyak kerja bersama, dan menguatkan relasi dengan seluruh latar belakang di Halmahera Selatan. Kehadiran dan peran KKST Halsel saatnya terlihat nyata

Di bawah kepemimpinan Jakaruddin, KKST Halsel diharapkan menjadi rumah yang mempersatukan warga Sulawesi Tenggara di berbagai kecamatan dan pulau di Halmahera Selatan. Rumah itu harus cukup luas bagi perbedaan asal, profesi, generasi, dan pandangan. Di rumah itu, ada karya, perhatian dan kontribusi.

Warga Sulawesi Tenggara telah lama hadir dalam jalur-jalur pergerakan masyarakat maritim Indonesia timur. Mereka berlayar, berdagang, menjadi nelayan, mendidik, bekerja dalam birokrasi, menggerakkan usaha, melayani masyarakat, dan membangun keluarga di berbagai pulau. Di Halmahera Selatan, jejak pengabdian itu terlihat dalam bidang pendidikan, pemerintahan, ekonomi, sosial, keagamaan, serta kehidupan sehari-hari.

Karena itu, pelantikan ini harus dibaca sebagai awal kerja. KKST dapat membantu pemerintah daerah memperkuat peran, menjadi mitra strategis. Bersama Bupati dan seluruh elemen masyarakat, KKST perlu membuktikan bahwa persaudaraan memiliki hasil yang dapat dirasakan: pelayanan yang lebih dekat, lingkungan yang lebih damai, ekonomi yang tumbuh, serta warga yang saling melindungi.

Sabtu (25/7), Cakalele Togale, silat adat Buton, kain khas buton, dan kampurui telah menyampaikan pesan tanpa banyak kata. Halmahera Selatan menjadi kuat bukan karena semua orang berasal dari tempat yang sama, melainkan karena mereka memilih berjalan ke arah yang sama. Persaudaraan sejati tidak bertanya siapa yang lebih dahulu datang tetapi apa yang dapat kita kerjakan bersama. Rumah bersama tidak selesai dibangun oleh pidato. Ia dibangun oleh tangan yang bekerja, hati yang saling menjaga, dan langkah yang tetap searah meskipun berasal dari pulau yang berbeda.(Mohamad.S.M)

"

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *