Opini Publik

6 Hal Penyebab UMKM Milenial Tembal Sepi Pengunjung

162
×

6 Hal Penyebab UMKM Milenial Tembal Sepi Pengunjung

Sebarkan artikel ini

HAL-SEL:SARUMANEWS.COM – Kawasan UMKM Milenial Tembal di Kabupaten Halmahera Selatan diharapkan menjadi pusat kuliner, ruang inovatif dan kreatifitas sekaligus ruang berkumpul bagi masyarakat, generasi muda,pegawai kantoran maupun swata jauh dari harapan itu.

Berdasarkan penelusuran media ini dan wawancara dengan sejumlah pengunjung, terdapat enam hal yang menjadi catatan dalam pengembangan UMKM Milenial Tembal agar lebih menarik dan mampu meningkatkan kunjungan masyarakat.

1. Cita Rasa Makanan dan Minuman Dikeluhkan
Kualitas rasa menjadi salah satu faktor penting dalam bisnis kuliner. Sejumlah pengunjung mengeluhkan makanan yang dinilai kurang memuaskan, alias tidak enak termasuk minuman seperti jus yang dianggap terlalu encer.

Dalam persaingan usaha kuliner, rasa dan konsistensi produk menjadi modal utama untuk membangun loyalitas pelanggan. Pengunjung tidak hanya mencari tempat untuk makan, tetapi juga mengharapkan kualitas produk yang sesuai dengan harga yang dibayarkan.

2. Inovasi Menu Masih Minim
Mengusung konsep UMKM Milenial semestinya menjadi peluang untuk menghadirkan produk kuliner yang kreatif, kekinian, dan memiliki ciri khas. Namun, sejumlah menu dinilai masih disajikan secara konvensional, seperti mi instan yang hanya direbus tanpa pengembangan rasa, variasi topping, maupun penyajian yang lebih menarik dan masi banyak contoh lainya.
Padahal, inovasi tidak selalu membutuhkan modal besar. Kreativitas dalam mengolah bahan lokal, mengembangkan menu, dan memperbaiki tampilan produk dapat meningkatkan nilai jual sekaligus membedakan satu usaha dari usaha lainnya.

3. Kebersihan Kamar Mandi Menjadi Keluhan

Kenyamanan pengunjung tidak hanya ditentukan oleh makanan dan minuman, tetapi juga kondisi fasilitas umum. Sejumlah pengunjung mengeluhkan kamar mandi yang kotor dan kurang nyaman.
Kebersihan fasilitas menjadi bagian penting dari standar pelayanan sebuah kawasan kuliner. Karena itu, pembersihan rutin, pengawasan berkala, serta pengelolaan fasilitas yang lebih disiplin diperlukan agar pengunjung merasa nyaman selama berada di kawasan tersebut.

4. Musik Antarlapak Terlalu Bising
Musik dapat menjadi daya tarik untuk menciptakan suasana santai. Namun, ketika setiap lapak memutar musik masing-masing dengan volume tinggi secara bersamaan, suasana justru menjadi bising dan mengganggu kenyamanan pengunjung.
Kawasan kuliner seharusnya mampu menghadirkan suasana yang mendukung aktivitas bersantai dan berbincang. Pengaturan volume serta koordinasi penggunaan pengeras suara perlu menjadi bagian dari penataan kawasan agar hiburan tidak berubah menjadi sumber ketidaknyamanan.

5. Kurangnya Agenda Kegiatan dan Hiburan
Kawasan UMKM akan lebih menarik jika tidak hanya menjadi tempat berjualan, tetapi juga ruang berkumpul, berekspresi, dan beraktivitas bagi masyarakat.
Kegiatan seperti pertunjukan musik terjadwal, bazar produk lokal, pertemuan komunitas kreatif, lomba, hingga acara anak muda dapat menjadi daya tarik tambahan. Agenda rutin yang didukung promosi digital berpotensi meningkatkan kunjungan sekaligus membuka peluang lebih besar bagi pelaku UMKM untuk memasarkan produknya.

6. Kuliner Khas Daerah Belum Tersedia
Salah satu potensi yang dapat dikembangkan untuk memperkuat daya tarik UMKM Milenial Tembal adalah kekayaan kuliner khas daerah. Namun, berdasarkan penelusuran media ini, sajian tradisional seperti sasimi, gohu, papeda, serta beragam olahan ikan dan makanan khas Maluku Utara lainnya belum tersedia di kawasan tersebut.
Padahal, kuliner lokal dapat menjadi identitas sekaligus keunggulan yang membedakan UMKM Milenial Tembal dari tempat kuliner lainnya. Kehadiran makanan khas daerah tidak hanya memperkaya pilihan menu bagi pengunjung, tetapi juga membuka peluang bagi pelaku usaha untuk memanfaatkan bahan pangan lokal dan memperkenalkan kekayaan kuliner Halmahera Selatan.
Jika dikembangkan dengan kualitas rasa yang terjaga, penyajian menarik, dan harga yang sesuai, kuliner tradisional berpotensi menjadi daya tarik tambahan bagi masyarakat yang ingin menikmati sajian khas daerah tanpa harus mencarinya di tempat lain.

Di sisi lain, Kepala Bidang (Kabid) UMKM, Nasrianti Abae biasa di sapa Ibu Ri, saat ditemui media ini mengakui bahwa pengembangan UMKM Milenial Tembal masih menghadapi sejumlah tantangan. Berbagai upaya pembinaan dan pembenahan telah dilakukan, meski hasilnya belum sepenuhnya terlihat sesuai harapan.

Dari sisi kualitas produk, pihaknya telah menggelar sejumlah pelatihan, termasuk pelatihan memasak, untuk meningkatkan keterampilan dan kreativitas pelaku UMKM. Namun, penerapan hasil pelatihan dalam bentuk inovasi menu dan peningkatan kualitas produk dinilai masih perlu diperkuat.

Pembinaan perlu diikuti perubahan nyata di lapangan. Pelaku usaha diharapkan lebih kreatif mengembangkan menu, menjaga konsistensi rasa, serta menghadirkan produk yang memiliki ciri khas dan nilai jual.

Selain itu, pembenahan juga dilakukan dari sisi kebersihan dan keamanan kawasan. Ibu Ri menyampaikan bahwa pihaknya telah menyediakan petugas khusus kebersihan serta petugas keamanan untuk mendukung kenyamanan pengunjung.

Meski demikian, berbagai upaya tersebut masih membutuhkan evaluasi dan pengawasan secara berkelanjutan agar pelaksanaannya berjalan maksimal. Kebersihan fasilitas, ketertiban kawasan, dan kesadaran pelaku usaha dalam menjaga kenyamanan bersama menjadi hal yang terus perlu diperhatikan.

Ibu Ri menegaskan bahwa evaluasi akan terus dilakukan untuk mengidentifikasi kekurangan dan mencari langkah perbaikan yang lebih efektif. Upaya tersebut diharapkan dapat meningkatkan kualitas produk, pelayanan, serta pengelolaan kawasan secara bertahap.

Enam hal tersebut menjadi catatan yang perlu mendapat perhatian dalam pengembangan UMKM Milenial Tembal. Promosi yang menarik perlu berjalan seiring dengan peningkatan kualitas kuliner, inovasi produk, kebersihan fasilitas, suasana yang nyaman, agenda kreatif, serta pengembangan menu khas daerah.

Pengembangan UMKM bukan sekadar menyediakan lapak untuk berjualan, melainkan membangun ekosistem usaha yang mampu menghadirkan produk berkualitas, memiliki identitas lokal, dan memberikan pengalaman positif bagi konsumen.

Dengan evaluasi yang konsisten serta kolaborasi pemerintah, pengelola, dan pelaku usaha, UMKM Milenial Tembal diharapkan dapat tumbuh menjadi kawasan kuliner dan kreativitas yang lebih hidup, menarik minat masyarakat, serta memberikan dampak ekonomi yang nyata bagi pelaku UMKM di Halmahera Selatan. (Hs)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!