Example 120x600
Example 120x600
Sosial

HUT ALKHAIRAT KE-91 DAN REFLEKSI & PERJALANANNYA DI BACAN

×

HUT ALKHAIRAT KE-91 DAN REFLEKSI & PERJALANANNYA DI BACAN

Sebarkan artikel ini

Oleh: M. Husni Muslim (Ketua Gema Suba)

Patut kita bersyukur kepada Allah Swt, atas ni’mat dianugerahkannya Alkhairaat untuk mencerdaskan ummat Manusia, sarana pengejawentahan untuk memperkenalkan nilai- nilai rabbani serta jembatan untuk menghantarkan ummat manusia kepada kesejahteraan di dunia dan selamat serta bahagia di alam Akhirat kelak.

Alkhairaat (Kebaikan) merupakan salah satu lembaga perguruan Islam yang namanya selalu harum sejak awal berdirinya di Celebes/ palu pada 14 Muharram 1349 H yang bertepatan dengan 30 Juni 1930 hingga detik ini. Mungkin kita bisa berbeda pandangan dalam memotret Alkhairaat, namun diyakini bahwa kita akan sepakat jika dikatakan eksistensi Alkhairat saat ini dan ekspektasi masyarakat sekarang dan kedepan nanti, telah menempatkan Alkhairat sebagai bagian terpenting dalam konstelasi lokal bahkan nasional di Republik ini. Hal ini tidak hanya ditandai dengan hadir dan berkembangnya Alkhairat hingga ke pelosok negeri (Khususnya Sulewesi, Maluku dan Maluku Utara), namun hal ini juga dapat disaksikan dengan hadirnya beberapa kader terbaik yang telah ikut serta dalam mengabdikan dirinya pada agama, bangsa dan negara ini. Kehadiran mereka dalam menempati posisi strategis di republik ini, seraya telah membawa panji Alkhairat yang telah digagas dan dibangun oleh Al-‘Alimul ‘Allamah Habib Sayyid “Idrus bin Salim Aljufri yang oleh Abna (anak-anak) Alkhairat, menyebutnya dengan nama Guru Tua. Panji Alkhairaat yang dibawa oleh kader terbaik Alkhairaat itu semakin tersebar dan menjadi “paku bumi” di tanah air Indonesia, mereka merambah ke hampir semua sarana dan strata kehidupan berbangsa.

Kader terbaik yang berkiprah dan menjadi asset bangsa ini diantaranya adalah Dr. H.Habib Salim Sagaf Aljufri,LC.,MA (Mantan Menteri Sosial periode 2009-2014), Ir. Fadel Muhammad Al-haddar (mantan Gubernur Provinsi Gorontalo dua periode, mantan menteri Kelautan dan Perikanan 2009), selain keduanya ada juga Prof. DR. Huzaemah Tahido Yanggo, MA yang selain sebagai mantan rektor Institute Ilmu Alqur’an/IIQ dan juga ketua MUI Indonesia bidang Fatwa. Pada tahun 2019 ia juga pernah ditunjuk oleh Syeikh Shawki Ibrahim Abdel Karim Allam (mufti Mesir) sebagai mufti dari Indonesia.

Pada wilyah lokal, panji dan berkah Alkhairat itu juga berkibar dengan cepat,  hal ini ditandai dengan beberapa kader di Bacan yang menduduki posisi strategis diantaranya Alm. Ustdz Achmad Bachtiar, BA (Ketua MUI Hal-Sel Periode 2005-2018), Ustadz M. Saleh Ahya (Ketua MUI Halsel sekarang), Ustadz Hi. Turmudzi Kamarullah, Alm ustadzah fatma Iskandar Alam, ustadzah Musnah Husin, ustadzah Muzuna Taraju, Alm ustadzah Rinting, Alm ustadzah Sabrawi M. Taher, ustadzah Asma Abdurrahim, Dr Muhammad Abusama, MM (mantan wakli Ketua DPRD Hal-Sel dan sekarang aktif sebagai wakil Ketua DPRD Provinsi Malut), Dr. Adnan Mahmud, MA (Warek I bidang Akademik IAIN Ternate Sekarang), Ustadz Dr. Muhammad Kasuba, MA (mantan bupati Hal-Sel 2 Peiode) dan KH. Abdul Gani Kasuba, MA (Gubernur Maluku Utara 2 Periode). Selain tokoh- tokoh di atas, sejatinya kader terbaik Alkhairat Bacan yang menempati posisi strategis di tingkal lokal sangatlah banyak apalagi yang bertebaran di Provinsi Maluku Utara.

Terlepas dari itu semua, agenda HUT Alkhairaat ke 91 sekaligus temu Alumni Alkhairat yang digelar di Labuha Bacan pada tanggal 30 Juni ini, harusnya menjadi momentum yang sangat penting untuk kita kembali merefleksikan historisasi kehadiran dan perkembangan Alkhairat “khususnya” di bumi Bacan. Sebab melalui refleksi itulah semangat Abnaul Khairat (Khususnya yang ada di Halmahera Selatan) akan semakin segar dan tentunya dapat menjadi spirit untuk semakin mengokohkan Alkhairat dibumi SARUMA.

Sejarah awal dan berkembangnya Alkhairat di Bacan tentu tidak dapat dilepaskan dengan Madrasah Misbaahul Aulaad (Pelita Anak- anak) sebagai saudara/ perguruan Islam tertua di Bacan. Sebab secara historis, jauh sebelum Guru Tua tiba di Bacan pada 1965, di Bacan Khususnya di Amasing sudah ada Misbaahul Aulaad sebagai Madrasah/ perguruan Islam yang tujuan utamanya tidak berbeda jauh dengan Alkhairaat. Madrasah Misbaahul Aulaad didirikan Oleh Sultan Oesman Sjah (Sultan Bacan ke 18) Pada tahun 1932 M, selain sebagai tempat membekali ilmu keagamaaan, kehadiran Misbaahul Aulad juga untuk melepaskan belenggu pembodohan dari masyarakat Bacan dan sekitarnya, belenggu pembodohan yang hari ini kita kenal dengan istilah “mencerdaskan Kehidupan bangsa” Alenia ke 4 dalam UUD 1945.

Kehadiran Guru Tua di Bacan disambut dengan meriah oleh Sultan dan rakyat Bacan, sebab selain untuk menghormati tamu apalagi ulama kharismatik, bagi Sultan Bacan Guru Tua dianggap sebagai kerabat Kesultanan Bacan yang datang untuk membantu misinya yakni dakwah Islamiyyah. Melalui penuturan beberapa tetua Adat negeri ini, Guru Tua sempat takjub dengan Bacan, bukan hanya karena penyambutannya yang begitu khidmat, bukan karena daerahnya yang subur dan daratan yang luas, tapi karena Guru Tua kagum dan terharu dengan Shalawat burdah yang dilantunkan oleh para santri Misbaahul Aulaad.

Pada kedatangan yang pertama, Pendidik Hadrami paling terkemuka di Indonesia abad ke-20 ini (demikianlah Prof Azzumardi Azra menyebut Guru Tua) belum langsung mendirikan Alkhairat di Bacan, beliau hanya berdakwah dan mengunjungi beberapa pulau kecil seperti Ambatu (sekarang Pelita) dan indong. Nanti pada tahun berikutnya iya kembali lagi dan langsung meresmikan Madrasah Ibtidaiyyah Alkhairaat Bacan pada 1966 dengan para asaatidz diantaranya Alm ustadzah Ainaini Hi.Hamzah, Alm Ustadz Asyur Bajeber dan Alm ustadzah Ihsan Hasan (Orang Bacan), kemudian disusul Alm.Ustadz Achmad Bachtiar, Alm Ustadz Husen Kambayang dan Alm ustadz Yakub Ishak sebagai generasi penerusnya.

Sebelum beroperasi di gedung/bangunan awal Alkhairaart (sekarang MTs), Sultan Muhsyin Sjah (Sultan Bacan ke 19) mengizinkan Madradsah Ibtidaiyyah Alkhairaat untuk beroperasi dalalam satu gedung bersama-sama dengan Misbaahul Aulad. Penyatuan 2 madrasah ini tidak hanya pada fisik/ bangunan semata, tetapi dalam perkembangannya Misbaahul Aulad dengan melihat kondisi dan dinamika saat itu, kemudian dengan jiwa pengayomnya, maka Misbaahul Aulaad menyatakan untuk meleburkan dirinya bersama Madrasah Alkhairat Bacan menjadi Mu’allimin pada tahun 1967 dengan maksud untuk mempersiapkan tenaga guru untuk pelanjut estafet. Murid perdana Muallimin  4 tahun ini diantaranya adalah Almah Hj. Achlana Bachmid, Almah Ustadzah Fatmah Iskandar Alam dan ustadzah Asma Abdurrahim.

Dalam perkembangannya juga, madrasah tempat belajar para santri saat itu berpindah dari lokasi dekat Masjid Sultan ke arah selatan (Eks Klinik Alkhairat) tepatnya di kompleks pasar lama, sebagai hadiah atau pemberian dari salah satu kerabat kesultanan Bacan. Sembari menggunakan pemberian rumah wakaf tersebut, Masyarakat Bacan dengan sukarela dan gotong royong berupaya membangun gedung Madrasah Alkhairaat Bacan yang berjumlah 6 lokal, gerakan gotong royong itu digelorakan dibawa pimpinan Alm bapak Mustafa Alhadar (Camat Bacan saat itu). Alhamdullah pekerjaan pembangunan gedung utama Alkhairat Bacan itu hanya memakan waktu 1 bulan.

Visi misi Alkhairaat jelang seabad ini, patut dipertahankan agar kodrat dan martabat tetap murni dan steril, menjadi corong syiar yang jitu, sehingga kemajuan Alkhairaat dibidang pendalaman keagamaan dapat merasuk dan tetap dipercaya masyarakat. Ikatan sosial keagamaan yang pada awalnya menjadi sokongan penuh dan erat patut dipelihara dengan baik terhadap kepercayaan tuan tanah negeri adat nang atoranga ini. Sebab kehadiran awal Alkhairaat di negeri adat nang atoranga (Bacan) ini diterima dengan “karpet hijau” melalui komitmen para leluhur yang telah mempersilahkan dalam waktu yang singkat mampu memajukan kiprahnya, meskipun berdampak secara tidak langsung terhadap mundurnya eksistensi keberadaan lembaga milik negeri adat nang atoranga (Bacan).

Karena itu, jauh kedepan, berabad-abad kemudian kita masih ingin melihat eksistensi Alkhairaat di negeri ini, sepanjang kemurnian visinya tetap menjadi fondasi yang kokoh. Itu berarti, Alkhairat Bacan harus berlindung diri dari kontaminasi politik, harus tetap bersandar pada Humanisme Educational of Religi untuk kepentingan umum, bukan terhadap kepentingan pribadi. Disamping itu, Alkhairaat Bacan harus tetap berpegang teguh pada satu tali komando sentral strategisnya yang berkedudukan di Palu, bukan Yayasan dan mencari- cari tonggak tersendiri. Sebab sejatinya, jati diri Alkhairaat berada pada etika struktural kepemimpinan sentral dari tempat domisili Alm. Guru Tua.

Meskipun Alkhairaat Bacan keberadaannya jauh di seberang dan memiliki orang- orang berpengaruh pada dekade belakangan ini, diberbagai jejaring kemajuan, tidak berarti mereka dapat diandalkan dan menjadi kompas yang baik dalam menjalankan misi kependidikan Alkhairaat. Hal ini karena landasan tuma’nina kependidikan Alkhairaat yang melandasi mereka terlalu sedikit bahkan mungkin telah banyak merusak sendi- sendi kekhusuannya yang pada kelanjutannya sikap individualisme menerobos kekuatan mereka, mengkristalkan dan membelenggu sikap, membentuk kekuatan yang pada akhirnya merugikan orang banyak. Secara sporadis, akhirnya dapat membangun komunitas  yang menerabas etika dan mendorong sikap membangun Dinasti.

Sikap- sikap ini patut kita hindari agar Alkhairaat menjadi tegar, besar, mengikuti jejak kemajuan pendidikan dan lembaga pendidikan Islam lainnya di tanah Air. Komunitas- komunitas semacam ini patut di sterilkan agar tidak menular kepada mereka yang masih konsisten pada visi misi murni Alkhairaat sebagaimana yang telah digagas oleh Guru Tua dari Palu.

Terlepas dari itu semua, peranan serta kiprah para kader terbaik Alkhairaat ini insya Allah akan selalu hadir seiring bumi ini berputar, ini bukanlah sebuah angan- angan kosong namun hal ini sejatinya selalu ada dalam setiap tarikan napas Guru Tua bahkan beliau selalu hadirkan dalam setiap gerak langkah dan munajadnya. Hal ini diabadikan dalam salah satu syairnya “Murid-Murid Alkhairat adalah pemimpin di semua bidang,mereka senantiasa berbicara sementara yang lainnya membisu”.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *