HAL-SEL:SARUMANEWS.COM – Bupati Halmahera Selatan, Hasan Ali Bassam Kasuba, menggarisbawahi peran sejarah dan posisi strategis etnis Tobelo-Galela (Togale) dalam merawat keharmonisan daerah.
Hal tersebut disampaikannya saat membuka secara resmi Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-21 Ikatan Keluarga Tobelo-Galela (IKA Togale) dan Pelantikan Pengurus Periode 2026–2031 di Pelataran UMKM Milenial, Desa Tembal (26/09/06)
Dalam pidatonyo, Bupati menegaskan bahwa warga Tobelo-Galela bukanlah etnis pendatang di Halmahera Selatan Keberadaan masyarakat Togale telah mengakar sejak lama dan menjadi bagian tak terpisahkan dari sejarah Maluku Utara Dari total 249 desa di Halmahera Selatan, sebanyak 173 desa merupakan basis pemukiman keluarga besar Tobelo-Galela.
“Sejarah Tobelo-Galela adalah sejarah panjang yang mewarnai Maluku Utara. Kita bukan pendatang di tanah ini, dan keberadaan 173 desa basis Togale menjadi bukti nyata kontribusi sejarah kita dalam membangun Halmahera Selatan,” ujar Bupati
Menjelaskan dinamika sosial daerah, Bupati memaparkan bahwa Halmahera Selatan merupakan rumah bagi 22 etnis yang hidup berdampingan Keberagaman ini melahirkan tradisi Rasai (ikatan persaudaraan) yang kemudian diformulasikan oleh para pendiri kabupaten ke dalam filosofi Saruma.
Filosofi Saruma ini berakar kuat pada nilai Hibual Lamo—konsep rumah adat besar yang inklusif, tempat semua etnis duduk bersama secara setara Melalui pilar ini, masyarakat Togale diajarkan untuk selalu memegang prinsip “berdiri sama tinggi, duduk sama rendah” dengan seluruh kelompok masyarakat.
“Nilai yang ditanamkan oleh para sesepuh kita adalah bahwa di Halmahera Selatan kita berdiri sama tinggi dan duduk sama rendah dengan semua etnis. Falsafah Saruma yang sejatinya adalah Hibual Lamo menjadi pilar penting agar kebersamaan tetap terjaga di bumi Halmahera Selatan,” tegas Bupati
Bupati juga menyikapi fenomena asimilasi budaya yang kian berkembang pesat di masyarakat, seperti tingginya tingkat perkawinan antaretnis (Togale, Makian, Buton, dan lainnya) Menurutnya, meskipun terjadi pembaruan sosial, nilai-nilai adat dan identitas budaya Togale tidak boleh luntur tergerus zaman
Ia berpesan agar generasi muda Togale yang lahir di era modern tetap mengingat warisan dan nasihat para leluhur (orang orang tua-tua) Dinamika pemikiran dan perbedaan latar belakang pendidikan hendaknya menjadi kekayaan untuk memajukan daerah, bukan memecah belah persatuan
“Kita ada hari ini karena perjuangan orang tua-tua kita. Apapun perbedaan dan dinamika yang ada, kita harus ingat bahwa persatuan adalah kunci utama untuk membawa Halmahera Selatan menjadi lebih maju, sejahtera, dan berkontribusi bagi Indonesia,” pungkasnya. (Hs)















