Pendidikan

Membaca Sejarah, Merawat Identitas: Soya-Soya Dan Warisan Budaya Halmahera Selatan

54
×

Membaca Sejarah, Merawat Identitas: Soya-Soya Dan Warisan Budaya Halmahera Selatan

Sebarkan artikel ini

CatatanCultural Historical Feature

HAL-SEL:SARUMANEWS.COM – Kebudayaan tidak selalu diwariskan melalui tulisan dan cerita. Ada sejarah yang tetap hidup melalui gerakan, irama, simbol, dan tradisi yang terus dipertahankan oleh masyarakatnya. Tari Soya-Soya adalah salah satu warisan budaya yang menyimpan jejak sejarah sekaligus merepresentasikan nilai keberanian, persatuan, dan semangat perjuangan masyarakat Maluku Utara.

Di balik gerakan kaki yang dinamis, ayunan salawaku, serta iringan tifa dan gong, tersimpan kisah panjang tentang perlawanan terhadap penjajahan Portugis. Soya-Soya bukan sekadar pertunjukan seni yang ditampilkan dalam upacara penyambutan atau kegiatan kebudayaan. Lebih dari itu, tarian ini merupakan ekspresi sejarah yang diwariskan melalui bahasa gerak.

Dokumen Diskripsi Tari Soya-Soya yang diterbitkan Proyek Pembinaan Kesenian Maluku, Kantor Wilayah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan tahun 1991–1992, mencatat bahwa tarian ini berakar dari sejarah Kesultanan Ternate. Latar belakangnya berkaitan dengan masa pemerintahan Sultan Khairun dan perlawanan rakyat di bawah kepemimpinan Sultan Babullah terhadap Portugis.

Dalam catatan tersebut, Sultan Khairun dikisahkan mengalami pengkhianatan ketika memenuhi undangan perundingan perdamaian di benteng Portugis. Sang Sultan kemudian ditangkap dan dibunuh. Peristiwa itu menjadi latar kisah perjuangan rakyat yang kemudian digambarkan melalui rangkaian gerakan Tari Soya-Soya.

Di bawah kepemimpinan Sultan Babullah, perlawanan terhadap Portugis digambarkan sebagai perjuangan untuk membalas tindakan penjajah sekaligus menemukan dan membawa kembali jenazah Sultan Khairun.

Dari kisah inilah Soya-Soya memperoleh karakter sebagai tari perang. Setiap gerakannya memiliki maksud dan alur cerita, mulai dari keberangkatan pasukan, ikrar kesetiaan, sumpah perjuangan, pertempuran, hingga penghormatan setelah jenazah Sultan Khairun ditemukan.

Salah satu keistimewaan Tari Soya-Soya terletak pada kemampuannya menyampaikan cerita melalui gerakan tubuh. Dokumentasi tahun 1992 menguraikan 12 rangkaian gerakan yang menggambarkan perjalanan pasukan di bawah pimpinan seorang komandan yang dilambangkan sebagai Sultan Babullah.

Gerakan tersebut bukan sekadar koreografi yang disusun untuk menghasilkan keindahan pertunjukan. Di dalamnya terdapat pesan tentang keberanian, tanggung jawab, kesetiaan, dan tekad menghadapi ketidakadilan.

Hal ini memperlihatkan bahwa kesenian tradisional memiliki cara tersendiri dalam menyimpan ingatan kolektif masyarakat. Ketika sejarah dituliskan dalam buku, Soya-Soya menghadirkannya melalui gerakan yang dapat disaksikan dan diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya.

Dengan demikian, panggung pertunjukan sesungguhnya dapat menjadi ruang untuk membaca kembali sejarah. Kekayaan Tari Soya-Soya tidak hanya terlihat dari gerakannya, tetapi juga dari busana dan perlengkapan yang digunakan.

Salawaku, misalnya, menjadi perlengkapan utama yang dipegang oleh penari. Sementara ngana-ngana, yang dalam dokumentasi dijelaskan dibuat dari daun woka dan batang bambu berisi kerikil atau kacang hijau, menghasilkan bunyi yang menyatu dengan irama pertunjukan.

Busana penari juga memiliki filosofi tersendiri. Warna putih melambangkan kesucian, keikhlasan, dan kesetiaan. Hijau menggambarkan keyakinan agama, kuning melambangkan kegembiraan dalam menjalankan tugas, biru memberikan kesan ketenteraman, sedangkan merah pada salempang menjadi simbol keberanian dalam menegakkan kebenaran.

Nilai-nilai tersebut memperlihatkan bahwa unsur budaya tidak hadir tanpa makna. Warna, perlengkapan, hingga gerakan merupakan bagian dari pesan yang ingin disampaikan melalui kesenian. Bahkan, iringan musiknya yang sederhana, berupa tifa kecil dan gong, menjadi bagian penting dalam membangun karakter pertunjukan yang dinamis dan penuh semangat.

Seiring perkembangan zaman, fungsi Tari Soya-Soya mengalami perubahan. Dari tarian yang pada awalnya menggambarkan semangat peperangan, kemudian berkembang menjadi tarian penyambutan tamu resmi, penghormatan, dan hiburan dalam berbagai kegiatan.

Perubahan fungsi ini tidak serta-merta menghilangkan nilai sejarah yang terkandung di dalamnya. Justru, perkembangan tersebut memperlihatkan bagaimana tradisi dapat beradaptasi dengan kehidupan masyarakat tanpa harus kehilangan akar budayanya.

Dalam konteks Halmahera Selatan, keberadaan Soya-Soya menjadi bagian penting dari kekayaan identitas budaya yang perlu terus diperkenalkan dan diwariskan.

Halmahera Selatan memiliki keragaman tradisi, bahasa, kesenian, dan ekspresi budaya masyarakat kepulauan. Karena itu, upaya menjaga warisan budaya tidak cukup hanya dengan menampilkan pertunjukan pada momentum tertentu. Diperlukan kesadaran untuk mengenali sejarah, memahami filosofi, mendokumentasikan pengetahuan, serta memberikan ruang kepada generasi muda untuk menjadi penerusnya.

Soya-Soya sendiri berasal dari bahasa Kayoa. Buku itu secara khusus menggunakan versi Kayoa karena sumber data yang diperoleh dinilai lebih lengkap. Catatan ini menjadi pengingat bahwa kekayaan budaya Maluku Utara juga tumbuh dari keberagaman bahasa dan tradisi antarpulau.

Menariknya, dokumentasi Tari Soya-Soya yang diterbitkan pada 1991–1992 telah memberikan perhatian khusus terhadap pentingnya pembinaan generasi muda. Pada masa itu, tarian ini telah diajarkan melalui sanggar-sanggar tari sebagai bagian dari upaya menjaga keberlangsungannya.

Para penari senior yang mewarisi tradisi tersebut diharapkan dapat meneruskan pengetahuan dan keterampilannya kepada generasi berikutnya. Pesan tersebut masih relevan hingga hari ini. Sebab, tantangan pelestarian budaya bukan hanya bagaimana sebuah tarian tetap dipentaskan, tetapi juga bagaimana makna dan pengetahuan di baliknya tidak hilang.

Generasi muda perlu mengenal lebih jauh mengapa gerakan tertentu dilakukan, apa makna salawaku, bagaimana filosofi warna busana, serta sejarah yang melatarbelakangi lahirnya sebuah tarian. Tanpa pemahaman tersebut, kesenian berisiko hanya menjadi tontonan tanpa pengetahuan tentang nilai yang diwariskan.

Karena itu, dokumentasi sejarah, pendidikan kebudayaan di sekolah, penguatan sanggar seni, serta keterlibatan komunitas budaya menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan tradisi.

Membaca kembali sejarah Soya-Soya sesungguhnya merupakan upaya memahami perjalanan sebuah kebudayaan. Di dalamnya terdapat kisah perjuangan, nilai kepahlawanan, filosofi kehidupan, dan identitas masyarakat yang melampaui batas waktu.

Warisan budaya tidak seharusnya hanya dikenang ketika ada festival, seremoni, atau kunjungan tamu kehormatan. Ia harus tetap hidup dalam pengetahuan, pendidikan, kreativitas, dan kehidupan masyarakat sehari-hari.

Sebab, sebuah daerah tidak hanya dikenal melalui keindahan alam dan potensi ekonominya. Identitas suatu daerah juga dibentuk oleh sejarah, tradisi, dan kebudayaan yang menjadi pembeda sekaligus kebanggaan masyarakatnya.

Merawat Soya-Soya berarti ikut menjaga salah satu jejak kebudayaan di provinsi Maluku Utara yang memiliki nilai sejarah dan filosofi. Bukan hanya untuk generasi hari ini, tetapi juga untuk mereka yang akan datang.

Pada akhirnya, membaca sejarah adalah cara memahami dari mana kita berasal, sementara merawat kebudayaan adalah tanggung jawab untuk memastikan identitas itu tidak hilang ditelan zaman.

Soya-Soya akan terus memiliki makna selama sejarahnya dipahami, gerakannya diwariskan, dan nilai-nilainya tetap hidup dalam ingatan generasi. (Hs)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!