HALSEL:SARUMANEWS.COM – Pemerintah Daerah Kabupaten Halmahera Selatan bersama Komunitas Pemuda Muhammadiyah kembali mempertegas komitmen kolaboratif dalam pengelolaan lingkungan melalui kegiatan simulasi policy brief. Kegiatan ini merupakan bagian lanjutan dari rangkaian program ekoliterasi dan field trip yang sebelumnya telah dilaksanakan di sejumlah titik.
Kegiatan tersebut berlangsung di Aula Pertemuan Bappelitbangda pada Jumat, 24 April 2026. Turut hadir dalam kegiatan ini Kepala Dinas Lingkungan Hidup, Ketua TP PKK, Kabag Pemerintahan,serta unsur kepemudaan dan berbagai komunitas.
Simulasi ini menjadi ruang strategis bagi para pemuda lintas organisasi dan komunitas untuk mengolah hasil temuan lapangan menjadi gagasan kebijakan yang terukur dan aplikatif. Fokus utama yang diangkat adalah pengelolaan sampah berkelanjutan, yang hingga kini masih menjadi tantangan serius di berbagai wilayah di Halmahera Selatan.
Bupati Halmahera Selatan dalam sambutannya menyampaikan apresiasi atas keterlibatan aktif generasi muda dalam mendorong perubahan. Ia menekankan bahwa persoalan sampah tidak bisa diselesaikan secara parsial, melainkan membutuhkan kesadaran kolektif dan kerja bersama lintas sektor.
“Kebijakan pengelolaan sampah harus dipahami secara kolektif. Partisipasi pemuda, komunitas, organisasi, dan seluruh masyarakat adalah kunci utama. Ini bukan hanya soal kebersihan, tetapi juga tentang membangun budaya dan pola pikir baru,” ujar Bupati.
Program ini merupakan bagian dari inisiatif nasional yang mendapat dukungan dari Ford Foundation, Kementerian Dalam Negeri, serta Kementerian Lingkungan Hidup. Pendekatan yang digunakan tidak hanya bersifat edukatif, tetapi juga transformatif mendorong perubahan dari tingkat paling dasar, termasuk melalui pemberdayaan ibu rumah tangga sebagai garda terdepan dalam pengurangan sampah dari sumbernya.
Koordinator program, Fadilah Saharini, menjelaskan bahwa simulasi policy brief ini merupakan tahapan penting dalam proses diseminasi hasil lapangan. Para peserta sebelumnya telah melakukan observasi langsung, mengidentifikasi persoalan, hingga merumuskan solusi berbasis kondisi riil masyarakat.
Menurutnya, Program Eko Bhinneka Muhammadiyah dirancang sebagai ekosistem kolaborasi yang mempertemukan berbagai elemen, mulai dari Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), organisasi kepemudaan lintas iman seperti AMGPM dan OMK, Korps PMII Putri (KOPRI), Organisasi Perempuan TP PKK, hingga komunitas lokal.
“Melalui pendekatan kolaboratif ini, kami ingin memastikan bahwa setiap rekomendasi kebijakan tidak hanya berhenti di atas kertas, tetapi benar-benar bisa diimplementasikan. Pengelolaan sampah di Halmahera Selatan harus menjadi gerakan bersama yang terintegrasi antara pemerintah, organisasi, komunitas, dan masyarakat,” jelas Fadilah.
Lebih dari sekadar kegiatan seremonial, simulasi ini juga bertujuan membangun kapasitas pemuda dalam memahami proses perumusan kebijakan publik secara komprehensif mulai dari identifikasi masalah, analisis data, hingga penyusunan rekomendasi yang relevan dan berbasis bukti.
Ke depan, hasil dari simulasi ini diharapkan dapat menjadi referensi awal dalam penyusunan kebijakan daerah yang lebih responsif terhadap isu lingkungan, sekaligus mendorong lahirnya gerakan kolektif yang berkelanjutan di tengah masyarakat.
Dengan semangat kolaborasi, inklusivitas, dan keberagaman, Pemerintah Kabupaten Halmahera Selatan optimistis bahwa gerakan ekoliterasi ini akan menjadi fondasi kuat dalam mewujudkan Bumi Saruma yang bersih, sehat, dan berkelanjutan.(Hs)















