Sosial

Berdiri Sama Tinggi, Duduk Sama Rendah”: Jalan Panjang Dr. H Muhammad Kasuba MA Mengangkat Martabat Togale

23
×

Berdiri Sama Tinggi, Duduk Sama Rendah”: Jalan Panjang Dr. H Muhammad Kasuba MA Mengangkat Martabat Togale

Sebarkan artikel ini

HAL-SEL: SARUMANEWS.COM — Ada ungkapan yang mungkin dahulu terdengar sederhana, tetapi dalam perjalanan sejarah masyarakat Tobelo-Galela di Halmahera Selatan, ia pernah menjadi cermin dari sebuah persoalan besar. “Hoakola mahoyomo, hoakola ua mahoyomo.” Sekolah maupun tidak sekolah, sama-sama makan. (26/06/2026)

Di satu sisi, ungkapan itu merupakan bagian dari kearifan lokal masyarakat yang hidup dekat dengan alam. Namun dalam perjalanan waktu, ia juga pernah dibaca secara keliru sebagai pembenaran bahwa pendidikan formal bukan sesuatu yang mendesak.

Di titik inilah perjalanan intelektual dan politik Dr. H. Muhammad Kasuba, MA, Pendiri sekaligus Pembina IKA Togale Halmahera Selatan, menemukan relevansinya.

Dalam rangkaian HUT ke-21 IKA Togale, filosofi tersebut kembali diperbincangkan. Namun bagi Muhammad Kasuba, persoalannya bukan sekadar bagaimana memahami sebuah pemeo lama, melainkan bagaimana sebuah generasi berani keluar dari batas-batas sejarah yang pernah membelenggunya.

Ia mengingat masa ketika masyarakat Togale secara demografis telah menjadi bagian penting dari Halmahera Selatan, tetapi belum sepenuhnya memperoleh ruang yang setara dalam pendidikan, birokrasi, maupun sektor formal. Pengalaman itu bukan sekadar cerita masa lalu bagi Muhammad Kasuba. Ia pernah menjalaninya sendiri.

Saat kecil, ia harus menempuh perjalanan dari Bibinoi dan Babang menuju Labuha untuk mendapatkan pendidikan. Jarak, keterbatasan fasilitas, dan keadaan sosial pada masa itu menjadi bagian dari pengalaman yang kemudian membentuk cara pandangnya tentang pendidikan.

Karena itu, ketika berbicara mengenai pendidikan, Muhammad Kasuba tidak melihatnya hanya sebagai persoalan sekolah, ijazah atau pekerjaan. Baginya, pendidikan adalah instrumen mobilitas sosial dan jalan untuk mengubah posisi sebuah masyarakat dalam sejarahnya sendiri.

Dari cara pandang itulah lahir kebijakan Pendidikan Gratis sejak 2006, dari jenjang dasar hingga menengah. Program tersebut bukan sekadar kebijakan administratif. Ia merupakan upaya untuk memutus satu mata rantai: ketika kemiskinan membuat anak sulit sekolah, ketika anak tidak sekolah maka peluangnya memasuki ruang-ruang strategis semakin kecil, dan ketika akses itu tertutup, ketertinggalan berpotensi diwariskan kembali kepada generasi berikutnya.

Muhammad Kasuba memilih memutus rantai tersebut melalui pendidikan. Langkah itu kemudian diperluas dengan membuka akses masyarakat terhadap birokrasi dan lapangan pengabdian publik. Ribuan Pegawai Tidak Tetap (PTT) direkrut, dengan proporsi besar berasal dari kalangan pemuda Togale, sebelum sebagian dari mereka kemudian terserap dalam sistem ASN dan PPPK.

Pada saat yang sama, gagasan membangun sumber daya manusia diperkuat melalui pendirian Universitas Nurul Hasan sebagai bagian dari ikhtiar menghadirkan akses pendidikan tinggi di daerah.

Dalam perspektif Muhammad Kasuba, pembangunan manusia tidak cukup hanya dengan membuka pintu sekolah. Masyarakat juga harus memiliki kesempatan untuk masuk ke ruang-ruang pengambilan keputusan, profesi, birokrasi, dan pusat-pusat produksi pengetahuan.

Karena itu, ketika ia mengutip prinsip keagamaan bahwa Allah SWT mengangkat derajat orang-orang yang berilmu, pesan tersebut sesungguhnya memiliki dimensi sosial yang lebih luas. Ilmu pengetahuan harus menjadi jalan pembebasan.

Bukan untuk meninggikan satu kelompok di atas kelompok lain, melainkan untuk memastikan tidak ada masyarakat yang selamanya berada di pinggir hanya karena sejarah pernah menempatkannya dalam keterbatasan.

Itulah sebabnya Muhammad Kasuba juga menempatkan perjuangan masyarakat Togale dalam kerangka yang lebih besar: persatuan, inklusivitas dan Saruma. Menurutnya, kemajuan warga Togale tidak boleh dibangun dengan cara menutup ruang bagi kelompok lain. Kepemimpinan dan pembangunan di Halmahera Selatan harus tetap berdiri di atas prinsip keadilan bagi seluruh masyarakat.

Dalam konteks itu, identitas Hibualamo dan semangat Saruma bukan sekadar simbol kebudayaan, tetapi dapat menjadi fondasi sosial untuk hidup bersama di tengah keberagaman. Ada satu gagasan penting yang tersirat dari seluruh perjalanan tersebut: sejarah tidak harus diwariskan sebagai nasib.

Sebuah generasi boleh mewarisi keterbatasan dari masa lalu, tetapi tidak harus mewariskan keterbatasan itu kepada anak cucunya. Dari sinilah pendidikan menjadi penting. Pendidikan bukan hanya tentang seseorang mendapatkan pekerjaan setelah lulus sekolah. Pendidikan adalah tentang kemampuan sebuah masyarakat membaca perubahan, memahami dunianya, mempertahankan identitasnya, sekaligus mengambil posisi yang setara dalam kehidupan modern.

Dan mungkin di situlah makna terdalam dari perdebatan mengenai “hoakola ua mahoyomo” hari ini. Jika dahulu ungkapan itu dapat dibaca sebagai “sekolah atau tidak sekolah tetap bisa makan”, maka perjalanan Muhammad Kasuba menunjukkan pembacaan yang berbeda:

sekolah bukan sekadar agar seseorang bisa makan, tetapi agar ia memiliki pengetahuan untuk mengubah cara hidup, membuka jalan bagi orang lain, dan memastikan generasi setelahnya memiliki pilihan yang lebih luas.

Karena itu, perjalanan Muhammad Kasuba tidak berhenti pada cerita tentang seorang mantan kepala daerah atau seorang tokoh yang pernah melahirkan sejumlah kebijakan.

Ia adalah bagian dari perjalanan sebuah gagasan: bahwa ketertinggalan dapat dilawan dengan pengetahuan, akses dapat diperluas melalui kebijakan, dan identitas budaya dapat berjalan berdampingan dengan modernitas.

Dari perjalanan itu pula lahir pesan yang relevan bagi generasi muda Togale hari ini: jangan menjadikan sejarah sebagai alasan untuk berhenti; jadikan sejarah sebagai alasan untuk bergerak lebih jauh.

Sebab pada akhirnya, ukuran keberhasilan sebuah generasi bukan hanya seberapa banyak orang yang berhasil mengubah hidupnya sendiri, tetapi seberapa jauh keberhasilan itu mampu membuka jalan bagi generasi yang datang sesudahnya.

Dan di sanalah warisan intelektual Muhammad Kasuba menemukan maknanya: pendidikan sebagai jalan keluar dari keterbatasan, kebijakan sebagai instrumen perubahan, dan kebudayaan sebagai akar yang membuat perubahan itu tetap memiliki arah. (Hs)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!