Pemerintahan

Liberika Bacan, Aroma yang Menarik Langkah ke Stand Halsel di Tangerang

132
×

Liberika Bacan, Aroma yang Menarik Langkah ke Stand Halsel di Tangerang

Sebarkan artikel ini

TANGERANG:SARUMANEWS.COM – Hari pertama APKASI Otonomi Expo (AOE) 2026 baru saja dimulai. Namun, aroma khas kopi Liberika Bacan sudah lebih dulu mengundang perhatian pengunjung yang melintas di depan stand Kabupaten Halmahera Selatan (Halsel).

Di tengah deretan produk unggulan dari berbagai daerah di Indonesia, secangkir kopi Liberika yang diracik langsung di lokasi menjadi salah satu daya tarik tersendiri dari stand Halsel.

Bukan sekadar memajang biji kopi dalam kemasan, Pemerintah Kabupaten Halmahera Selatan melalui Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan UMKM menghadirkan pengalaman berbeda. Seorang barista muda asal Bacan, Rama Mandala, didatangkan langsung untuk meracik dan menyajikan Liberika Bacan kepada para pengunjung.

Antusiasme pun terlihat sejak hari pertama. Pengunjung silih berganti datang untuk mencicipi racikan Rama. Bahkan, antrean sempat terbentuk di depan meja penyajian.

Dalam waktu singkat, sekitar 5 kilogram biji kopi Liberika Bacan yang dibawa untuk kegiatan expo ludes karena tingginya minat pengunjung.

Kepala Bidang UMKM Dinas Perindagkop Halsel, Nasriaty Aba’e, mengatakan kopi Liberika sebenarnya bukan produk baru yang dibawa dalam setiap momentum pameran. Namun, pada AOE 2026 terdapat pendekatan berbeda.

“Biasanya kita membawa biji kopi untuk dipamerkan. Kali ini kita ingin pengunjung tidak hanya melihat produknya, tetapi juga langsung merasakan bagaimana kopi Liberika Bacan diracik dan disajikan,” ujarnya.

Untuk memperluas promosi, pengunjung juga diberikan kesempatan mencicipi kopi Liberika Bacan secara gratis.

Langkah sederhana itu justru menjadi pintu masuk percakapan. Dari satu cangkir, pengunjung mulai bertanya tentang asal kopi, jenisnya, hingga cerita di balik Liberika yang dibawa dari Pulau Bacan.

Liberika Bacan bukan sekadar produk perkebunan baru. Kopi telah dikenal di Pulau Bacan sejak masa kolonial Belanda dan menjadi bagian dari sejarah perkebunan di wilayah tersebut.
Catatan sumber daya genetik perkebunan Maluku Utara menyebut perkembangan kopi di Pulau Bacan berkaitan dengan kerja sama selama 75 tahun antara Belanda dan Sultan Bacan ke-17, Sultan Sadek, yang dimulai pada 1 Juli 1881. Melalui perusahaan PT Batjan Algemene Maastchappij (BAM), perkebunan di Bacan mengembangkan sejumlah jenis kopi, termasuk Robusta, Liberika dan Excelsa.

Penelitian mengenai Kopi Liberika Bacan juga menunjukkan bahwa jenis kopi ini memiliki karakter yang sesuai dengan kondisi dataran rendah Halmahera Selatan dan memiliki peluang pengembangan yang prospektif.

Kini, Liberika Bacan bahkan telah tercatat sebagai varietas lokal unggul khas Pulau Bacan dengan nama “Libery US”, terdaftar pada Kementerian Pertanian dengan nomor 1822/PVL/2021.

Sejarah panjang itulah yang kini coba dibawa kembali ke ruang yang lebih luas—bukan hanya sebagai cerita masa lalu, tetapi sebagai identitas dan peluang ekonomi baru bagi masyarakat Halsel.

Kehadiran barista lokal di stand Halsel menjadi bagian dari strategi memperkenalkan produk secara lebih dekat kepada calon konsumen.

Rama tidak hanya menyeduh kopi. Ia memperlihatkan bahwa produk lokal Bacan dapat hadir dengan cara yang modern, menarik dan mampu bersaing di tengah beragam produk unggulan daerah lain yang dipamerkan di AOE 2026.

Bagi Pemerintah Kabupaten Halmahera Selatan, expo bukan hanya tentang menampilkan produk, tetapi juga membuka ruang agar produk lokal dikenal, dicicipi dan kemudian memiliki peluang untuk masuk ke pasar yang lebih luas. (Hs)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *