Sosial

HUT IKA Togale Halmahera Selatan: Reinterpretasi Filosofi ‘Hoakola Mahoyomo’ dan Komitmen Melestarikan Budaya Lokal

57
×

HUT IKA Togale Halmahera Selatan: Reinterpretasi Filosofi ‘Hoakola Mahoyomo’ dan Komitmen Melestarikan Budaya Lokal

Sebarkan artikel ini

HAL-SEL:SARUMANEWS.COM – Ikatan Keluarga Tobelo-Galela (IKA Togale) Halmahera Selatan memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-21 yang dirangkaikan dengan Pelantikan Pengurus Periode 2026–2031 serta Seminar Budaya di Pelataran UMKM Milenial Halmahera Selatan, Sabtu (26/9/2026)

Kegiatan bertema “Melestarikan Budaya Tobelo-Galela di Era Modern” ini menjadi momentum penting untuk mempererat silaturahmi, merawat identitas budaya, serta menguatkan kontribusi masyarakat Togale dalam pembangunan di Halmahera Selatan

Dalam Seminar Budaya, Wakil Bupati Halmahera Utara sekaligus akademisi, Dr. H. Kasman H. Ahmad, mengulas secara mendalam filosofi tradisional Togale, “hoakola mahoyomo, hoakola ua mahoyomo” (sekolah juga makan, tidak sekolah juga makan)

Menurut Dr. Kasman, ungkapan tersebut pada masa lalu kerap dipahami secara sempit sebagai alasan untuk tidak mengejar pendidikan formal karena masyarakat mengandalkan kearifan ekologis (indigenous knowledge) untuk memenuhi kebutuhan hidup harian Namun di era modern, pemahaman tersebut direkonstruksi secara positif dan konstruktif

Pendidikan formal dan pelestarian budaya lokal, tegas Dr. Kasman, bukanlah dua hal yang bertentangan melainkan saling menguatkan.

“Bersekolahlah agar budaya tetap hidup, dan rawatlah budaya agar kehidupan tetap memberi makan generasi yang akan datang,” ujar Dr. Kasman

Pendiri sekaligus Pembina IKA Togale Halmahera Selatan, Dr. H. Muhammad Kasuba, MA, menyampaikan bahwa tantangan dogma masa lalu berhasil diterobos melalui terobosan kebijakan nyata di bidang pendidikan dan kesehatan

Sejak 2006, Halmahera Selatan memelopori program pendidikan gratis dari tingkat dasar hingga menengah, serta jaminan kesehatan yang kini berkembang menjadi Universal Health Coverage (UHC). Kehadiran institusi seperti Universitas Nurul Hasan juga menjadi simbol dorongan pendidikan tinggi bagi generasi muda.
Dr. Muhammad Kasuba menegaskan bahwa penguatan SDM bertujuan agar warga Togale dapat berdiri sama tinggi dan duduk sama rendah dengan seluruh komunitas etnis lainnya, sekaligus berkontribusi bagi masyarakat luas.

“Orang yang berilmu diangkat derajatnya oleh Allah SWT. Prinsip inilah yang menjadi misi besar kita untuk memastikan anak-anak menempuh pendidikan setinggi-tingginya,” ungkap Dr. Muhammad Kasuba

Sementara itu, Anggota Dewan Aman Nasional (AMAN), Afrida Erna Ngato, menekankan pentingnya pendokumentasian cerita rakyat, sejarah lokal, serta pemetaan wilayah adat untuk menjaga identitas jati diri masyarakat adat Togale.

“Bahasa menunjukkan bangsa. Masyarakat adat Tobelo-Galela harus terus menggunakan bahasanya, mendokumentasikannya, dan menjaga wilayah adatnya,” tegas Afrida

Bupati Halmahera Selatan dalam sambutannya menyampaikan bahwa Tobelo-Galela memiliki akar sejarah yang panjang dan populasi signifikan, mencakup 173 dari 249 desa di Halmahera Selatan Meskipun demikian, keberadaan etnis Togale selalu menjunjung tinggi semangat inklusivitas dan falsafah Saruma (Hibual Lamo) demi kemajuan dan kesejahteraan seluruh masyarakat Halmahera Selatan lintas etnis. (Hs)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!